Subuh, Warung Kopi, dan Negeri yang Lupa Sujud

Andai yang bangun memenuhi saf masjid saat Subuh seramai yang berbondong-bondong ke warung kopi ketika listrik padam dan sinyal internet mati, mungkin negeri ini sudah lama keluar dari gelap. Masjid tak perlu lagi pengeras suara. Tak perlu azan. Cukup diumumkan, “WiFi mati!” niscaya manusia berlari seperti mengejar takdir.

Di saat gelap total, warung kopi berubah jadi pusat peradaban dadakan. Tanpa lampu, tanpa sinyal, tanpa colokan tetapi manusia justru terasa menyala. Cerita mengalir, tawa berhamburan, debat politik tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Semua mendadak jadi ulama ilmu dunia, ahli ekonomi global, pakar geopolitik, bahkan peramal kiamat versi grup WhatsApp.

Sebaliknya, ketika azan Subuh berkumandang, panggilan paling tua di bumi, panggilan langsung dari langit, responsnya sering seperti notifikasi yang dibisukan. Didengar, tapi tak dituruti. Ada yang menggeser layar mimpi, ada yang berkali-kali menekan tombol snooze, seakan Tuhan bisa menunggu sampai mata kita benar-benar “online”.

Ironisnya, saat listrik padam, orang rela keluar rumah tanpa menyisir rambut. Saat sinyal mati, orang berbaris mencari colokan seperti jamaah haji mencari Ka’bah.
Tapi ketika waktu Subuh tiba, kita justru lihai mencari alasan dingin, mengantuk, capek, besok saja. Padahal besok belum tentu milik kita.

Andai masjid menyediakan kopi panas, colokan listrik, dan WiFi gratis, mungkin saf pertama akan penuh oleh mereka yang selama ini setia berjamaah di warung. Imam pun barangkali perlu berkata:

“Luruskan saf, rapatkan barisan, password WiFi dibagikan setelah salam.” (Aceh adalah Serambi Mekkah yang dari dulu bergema untuk Kaphe kaphe Belanda)

Kita ini bangsa yang takut kehilangan sinyal, tapi sering tak merasa kehilangan arah.
Kita panik saat layar gelap, tetapi tenang saja ketika hati redup. Kita gusar saat notifikasi berhenti, namun santai ketika nurani jarang tersambung. Kita rajin menyalakan gawai, tapi malas menyalakan doa.

Maka jangan heran jika negeri ini kebanjiran informasi, tapi kekeringan makna. Ramai di warung kopi ketika gelap dunia, sepi di masjid ketika terang dari langit datang. Kita lebih percaya cahaya layar daripada cahaya sajadah. Lebih cepat bangkit karena WiFi mati, daripada karena azan Subuh memanggil kembali.

Dan di saat kita sibuk menertawakan gelapnya sinyal, di sudut negeri yang lain di Aceh Tamiang, gelap itu benar-benar menjadi duka.

Dua desa, Kota Lintang Bawah dan Sukajadi, hancur diterjang banjir bandang pada Rabu, 26 November 2025. Yang tersisa hanyalah reruntuhan, kayu gelondongan, lumpur tebal, mayat dan beberapa rumah yang masih berdiri seperti saksi bisu kiamat kecil yang baru saja lewat.

Sebagian warga bertahan hidup berhari-hari di atas bubung atap rumah, bersama anak-anak mereka, tanpa makan dan tanpa minum.
Pertolongan seperti doa yang tertahan di langit tak kunjung tiba.

Sembilan hari lamanya, bantuan tak juga datang. Seorang warga menyebut kampungnya seperti “kota zombie”, hancur, sunyi, dan berbau kematian. Toko-toko dijarah bukan karena rakus, tapi karena lapar. Manusia memaksa bertahan dengan cara yang tersisa.

Dan menurut data BNPB per 6 Desember 2025, 48 orang wafat. 18 orang terluka.
Angka yang bagi statistik hanyalah data,
tapi bagi Tuhan, satu jiwa saja sudah setara seluruh dunia.

Mungkin inilah potret paling jujur dari zaman kita..😭😭 Kita ribut ketika listrik dan WiFi mati, tapi sering diam ketika manusia mati. Kita panik ketika listrik padam, tapi tenang ketika nurani padam. Kita rajin memakmurkan warung kopi saat gelap, tapi sering lupa memakmurkan masjid saat terang.

Dan barangkali azan Subuh bukan sekadar panggilan shalat. Ia juga panggilan untuk bangun dari tidur panjang bernama kelalaian.

📷: Salah satu potret warung kopi di Banda Aceh

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!