PSAJ Hari Kedua

Di bawah rindangnya pohon di halaman SMP Inshafuddin, Banda Aceh, suasana siang itu sedikit lebih riuh dari biasanya. Aisyah, Rara, dan Bunga duduk melingkar di bangku taman, beberapa lembar catatan modul ajar Informatika dan lembar kisi-kisi PSAJ (Penilaian Sumatif Akhir Jenjang) tahun ajaran 2025/2026 berserakan di hadapan mereka.

“Aku agak khawatir dengan bagian Computational Thinking di Informatika,” ujar Aisyah sambil membolak-balik catatannya. “Kalau soalnya modelnya analisis kasus seperti tahun lalu, kita harus benar-benar paham alur berpikirnya, bukan cuma menghafal definisi.”

Rara mengangguk setuju, “Iya, apalagi PSAJ sekarang kan menekankan pada pemahaman konsep dan literasi. Aku dengar dari guru, PSAJ nanti tidak hanya menguji apa yang kita tahu, tapi bagaimana kita menerapkan logika tersebut di kehidupan sehari-hari.”

“Yang penting kita cicil dari sekarang,” sahut Bunga mencoba menenangkan. “Ayo kita coba buat mind map untuk materi Informatika, mulai dari pengenalan antarmuka sampai analisis data, supaya lebih mudah diingat.”

Mereka pun mulai mengeluarkan kertas kosong dan pulpen, lalu menyusun rangkaian materi satu per satu. Sinar matahari yang menembus sela-sela daun pohon memberikan cahaya lembut yang membuat suasana belajar terasa lebih nyaman. Sesekali mereka berhenti untuk berdiskusi, saling bertanya jika ada materi yang kurang jelas, dan saling menjelaskan satu sama lain dengan sabar.

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Ketiganya menoleh dan melihat seorang guru berjalan mendekat dengan senyum di wajahnya. Itu adalah Pak Zulkifli, guru mata pelajaran Informatika yang dikenal ramah dan sabar, meskipun terkadang sikapnya terasa sedikit berlebihan dalam memberikan perhatian. Ia berhenti tepat di depan bangku mereka, lalu menatap ketiga siswinya dengan ekspresi yang terlihat sangat antusias.

“Wah, lihatlah ini! Anak-anak yang rajin belajar! Sungguh indah melihat kalian bersatu padu mempersiapkan diri menghadapi ujian! Ini yang namanya semangat, ini yang namanya keuletan! Tidak ada yang bisa mengalahkan usaha yang kalian lakukan hari ini, tidak ada!” ujar Pak Zulkifli dengan nada yang cukup keras dan sikap yang berlebihan, tangannya bergerak-gerak mengikuti irama ucapannya seolah-olah sedang memberikan pidato yang sangat penting.

Aisyah, Rara, dan Bunga saling berpandangan sejenak, lalu tersenyum malu-malu. Mereka tahu kebiasaan guru ini yang memang suka memberikan pujian dengan cara yang berlebihan, jadi mereka terbiasa dengan sikapnya itu.

“Terima kasih atas pujiannya, Pak,” jawab Bunga dengan sopan. “Kami hanya ingin mempersiapkan diri sebaik mungkin, supaya bisa mengerjakan ujian nanti dengan baik.”

“Baik? Tidak hanya baik! Kalian akan menjadi yang terbaik! Kalian adalah siswa-siswa istimewa dari SMP Inshafuddin ini! Setiap kali aku melihat kalian belajar dengan giat, hatiku terasa sangat bahagia, aku merasa bersemangat sekali untuk mengajar kalian! Aku berharap kalian selalu seperti ini, rajin, tekun, dan saling membantu satu sama lain! Tidak ada hal yang tidak bisa kalian capai asalkan kalian berusaha dengan sepenuh hati!” lanjut Pak Zulkifli, suaranya semakin bersemangat dan matanya terlihat berbinar-binar.

Rara tersenyum mendengarnya, lalu berkata, “Kami juga senang bisa belajar dengan Bapak, Pak. Bapak selalu menjelaskan materi dengan cara yang mudah dipahami, jadi kami jadi lebih semangat lagi.”

“Wah, betul sekali! Kalian benar-benar anak yang pintar dan peka! Setiap kata yang kalian ucapkan membuat hatiku terasa sangat hangat! Aku selalu berdoa agar kalian semua bisa mendapatkan hasil yang terbaik dalam PSAJ ini, dan semoga kelak kalian bisa menjadi orang-orang yang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang! Ingatlah, aku selalu mendukung kalian, aku selalu ada untuk membantu kalian kapan saja kalian butuhkan! Kalian adalah kebanggaan sekolah ini, kalian adalah kebanggaan diriku sendiri!”

Pak Zulkifli berhenti sejenak untuk menarik napas, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin lembut namun tetap terdengar berlebihan, “Nanti kalau ada soal yang sulit, kalau ada materi yang belum kalian pahami, jangan ragu untuk datang menemuiku ya. Aku akan menjelaskannya dengan sebaik-baiknya, aku akan menjelaskannya sampai kalian benar-benar mengerti, sampai kalian merasa yakin dengan kemampuan diri sendiri! Tidak ada pertanyaan yang terlalu sederhana atau terlalu sulit bagiku untuk jawab, karena kalian adalah siswa yang paling aku sayangi!”

Aisyah mengangguk sambil tersenyum, “Baik, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya. Kami akan berusaha sebaik mungkin.”

“Sama-sama! Sama-sama! Ini adalah kewajibanku sebagai guru, dan ini juga adalah kebahagiaanku! Aku berharap kalian tidak pernah merasa ragu atau takut menghadapi ujian nanti, karena aku yakin kalian semua mampu melakukannya! Kalian adalah yang terbaik, kalian bisa melakukan apa saja!”

Setelah mengatakan hal itu, Pak Zulkifli mengangguk-angguk dengan cepat dan melangkah pergi, masih sesekali menoleh ke arah mereka sambil tersenyum lebar. Ketiga siswi itu saling berpandangan dan tertawa kecil, menyadari bahwa meskipun sikap guru itu terkadang terasa berlebihan, mereka sangat menghargai perhatian dan semangat yang diberikan.

“Memang ya, sikap Bapak kadang-kadang terasa terlalu berlebihan,” kata Rara sambil kembali menulis di kertas. “Tapi di sisi lain, perhatiannya itu yang membuat kita jadi lebih semangat belajar.”

“Iya benar,” tambah Bunga. “Yang penting kita manfaatkan semangat dan bimbingan yang dia berikan sebaik mungkin. Lanjutkan saja apa yang kita rencanakan tadi, ya?”

Aisyah mengangguk kembali menekankan poin penting dalam catatannya. “Tentu saja. Mari kita selesaikan mind map ini dulu, lalu kita coba kerjakan soal latihan dari tahun lalu. Kalau ada yang bingung, kita bisa tanya langsung ke Bapak nanti.”

Mereka kembali fokus pada kegiatan belajar mereka di bawah rindangnya pohon itu. Sinar matahari yang semakin lembut, angin sepoi-sepoi yang berhembus pelan, dan semangat yang saling menguatkan membuat suasana belajar terasa semakin menyenangkan. Mereka tahu bahwa meskipun masih ada banyak hal yang harus dipelajari dan dipersiapkan, dengan kerja keras, saling membantu, dan dukungan dari guru serta orang-orang terdekat, mereka pasti bisa menghadapi PSAJ dengan baik dan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Saat langit mulai terlihat sedikit lebih gelap menandakan waktu petang, mereka membereskan semua catatan dan berjanji akan melanjutkan kegiatan belajar mereka keesokan harinya. Mereka berjalan keluar dari halaman sekolah dengan langkah yang ringan dan hati yang penuh harapan, siap menghadapi setiap tantangan yang akan datang.

WeCreativez WhatsApp Support
Our customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!