




Lantai dua SMP Inshafuddin Banda Aceh adalah zona hening yang sakral. Di sana ada Perpustakaan perpustakaan sekolah, sebuah ruangan luas dengan rak besi yang mulai karatan hampir setinggi plafon, bau kamper yang menyengat, dan Bu Lia, sang pustakawan, yang memiliki indra pendengaran setajam radar kapal selam.
”Perpustakaan itu seperti kuburan,” bisik Herman saat mereka melewati lorong. “Penuh sejarah, tenang, dan tidak ada yang mau ke sana kalau tidak terpaksa.”
Bagi siswa SMP, perpustakaan konvensional itu memiliki “dinding tak kasat mata”. Bukan dinding bata, melainkan dinding rasa sungkan dan bosan. Namun, semua berubah ketika sebuah minibus elf berwarna hijau toska terparkir di lapangan futsal setiap hari Selasa dan Sabtu.
